”Di tingkat nasional, saya pernah lolos lomba Utsawa Dharmagita Agama Hindu tahun 2021 dan 2024. Dari awal memang saya sudah niat mau masuk UGM karena Yogyakarta terkenal dengan pendidikannya,” katanya.
Berada di lingkungan transmigran tak membuat Emil merasa putus asa.
Dia menceritakan terkait penghasilan yang didapatkan berasal dari panen kebun sawit.
BACA JUGA: Ada Masalah Apa? Warga Laporkan Pemerintah Kalurahan Sidomulyo ke Kejari Bantul
Setiap minggunya, ayahnya hanya berhasil memanen sekitar 4-5 kuintal buah sawit.
“Dihargainya per kilo Rp 2.000 rupiah ke pengepul dan rata-rata setiap bulannya mendapat sekitar Rp 2 juta,” jelasnya.
Penghasilan ini digunakan ayahnya, Kadek untuk menghidupi tiga anaknya dan kedua orang tuanya yang tinggal bersama.
Sambil menunggu panen, Ayahnya bekerja serabutan sebagai buruh harian lepas, membantu tetangga mengangkut hasil panen atau mengolah bibit sawit.
”Berkat pengalaman 10 tahun sebagai mandor di perusahaan sawit Astra, ayah memiliki keterampilan dalam mengelola kebun kelapa sawit. Dari situ, saya sangat bersyukur mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari UGM dan menjadikan saya mahasiswa tanpa biaya kuliah,” tutupnya. (suf/ree).
Editor: Dzikrina Abdillah.










