DARI sekadar hobi di masa kecil hingga menjadi atlet berprestasi, Surya Agung Pangestu, lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Jurusan Olahraga, telah menapaki perjalanan panjang di dunia panjat tebing. Pria asal Yogyakarta ini membuktikan bahwa dedikasi dan kerja keras dapat mengubah tantangan menjadi peluang emas.
Segalanya bermula ketika Surya masih duduk di bangku SD. Energi meluap-luap yang kerap membuatnya kerap bentindak sesuka hati, dialihkan oleh sang ayah ke aktivitas yang lebih positif seperti olahraga. Sang ayah, yang juga pernah terjun di dunia panjat tebing, memperkenalkan Surya kepada seorang pelatih panjat tebing. Sejak itu, kecintaan Surya pada olahraga ini tumbuh.
Meski awalnya mencoba berbagai cabang olahraga seperti futsal, bola voli, dan atletik, pilihan akhirnya jatuh pada panjat tebing. “Saya suka karena ini olahraga individu. Kalau saya latihan keras, hasilnya untuk saya. Kalau tidak, ya itu risiko saya sendiri,” ungkapnya, Minggu (29/12/24).
Surya memulai debut kompetisinya melalui Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) DIY dan perlahan meniti karier hingga ke level Nasional. Beberapa prestasi gemilangnya antara lain POPNAS Solo mewakili DIY di ajang olahraga pelajar Nasional, Pra-PON Jawa Timur 2019 meraih medali perunggu di kategori boulder beregu putra, PON Aceh 2024 kembali tampil setelah lolos di Pra-PON Jawa Tengah. Namun, langkah Surya sempat terhambat cedera punggung pada tahun 2019. Cedera itu memperlambat peningkatannya sebagai atlet.
“Bukan berarti saya stuck, tapi progresnya sangat lambat dibanding sebelum cedera,” katanya.
Meski semangatnya untuk bertanding tetap menyala, Surya kini mulai mempersiapkan masa depannya sebagai pelatih. Ia telah mengantongi dua sertifikat pelatih nasional, yakni Pelatih Fisik Nasional Level 1 dan Pelatih Panjat Tebing Nasional Level 1.
“Melihat banyaknya atlet muda yang lebih potensial, saya berpikir untuk berkontribusi sebagai pelatih. Saya ingin membimbing generasi berikutnya agar mereka bisa lebih hebat,” ujarnya
Meski kini lebih banyak berkutat dengan dunia kepelatihan, Surya masih meluangkan waktu untuk berlatih di Mandala Krida, tempat pemusatan latihan daerah DIY. Baginya, panjat tebing bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari hidup yang telah membentuk karakter dan prinsipnya.
“Jika masih ada kesempatan, saya tetap ingin bertanding. Tetapi fokus utama saya kini adalah mencetak atlet-atlet baru,” tutupnya.
Surya Agung Pangestu adalah bukti nyata bahwa semangat pantang menyerah dapat membawa seseorang dari puncak tebing hingga ke puncak prestasi. Sebuah perjalanan inspiratif dari atlet DIY yang terus mendaki mimpi tanpa henti. (cr6/ree)










