YOGYAKARTA, Joglo News – Kota Yogyakarta menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan karena keterbatasan lahan pertanian yang semakin menyusut.
Dengan luas sawah yang hanya tersisa 34,07 hektare, hasil produksi pangan lokal sangat terbatas.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi mengatakan, produksi beras dari sawah-sawah tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sawah yang ditanami tiga kali dalam satu tahun dengan produktivitas enam ton per tahun, maka hasilnya hanya sekitar 250 ton.
BACA JUGA: Bantul Marak PMK, Pedagang Sapi Segoroyoso Kehilangan Omzet
“Itu hanya cukup untuk tiga atau empat hari konsumsi,” ungkapnya, Minggu (19/1).
Karena itu, Pemkot Yogyakarta lebih fokus pada stabilisasi distribusi dan stok pangan untuk memastikan ketahanan pangan tetap terjaga.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah membangun kerja sama dengan daerah lain, baik di wilayah DIY maupun luar provinsi.
Pihaknya membangun kerja sama dengan kabupaten-kabupaten di DIY seperti Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul.
Selain itu, ada juga kerja sama dengan Purworejo, Sukoharjo, Klaten, hingga Blitar.
“Kalau untuk telur, kami fokus dengan Blitar karena mereka adalah salah satu penghasil terbesar,” jelasnya.
Data kebutuhan pangan Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa setiap bulan diperlukan sekitar 700 ton telur dan 94 ton beras per minggu.
Jika hanya mengandalkan produk domestik dan tanpa kerja sama antar daerah, kebutuhan ini tidak akan terpenuhi.
Meski demikian, Sukidi memastikan bahwa ketersediaan bahan pangan di Kota Yogyakarta tetap aman.










