Suparmono memaknai kesuksesan yang didapatnya saat ini tidak lepas dari doa-doa.
Itu baik doa dari seluruh keluarga tercinta. Tak terkecuali, istri dan anak-anaknya. Mereka setiap saat mendukung kegiatannya.
Pemaknaan itu lantas diterapkannya dalam hubungan sosialnya bersama warga sekitar tempat tinggalnya.
Bahkan, kepada sesama pekerja di kantor baik anak buah maupun sejawat.
”Sebagian ada yang bilang saya birokrat los. Artinya, ruang saya selalu terbuka lebar pintunya siapapun boleh akses asalkan sesuai tata kesopanan dan kebutuhan informasi yang ingin didapatkan. Pendekatan intens, penandatanganan berkas yang terbuka apa adanya sebagai pemberi kebijakan saya lakukan atas dasar lillah bertugas,” terangnya.
BACA JUGA: SMP Negeri 2 Mlati Sleman Perkenalkan Pembelajaran Tersistem Komputer
Lebih dari itu, perjaanan Panjang menjadi abdi negara, dia tuangkan dalam terobosan-terobosan. Khususnya, untuk bagi para petani agar mendapatkan kesejahteraan.
”KWT di masing-masing kalurahan mulai saya gerakkan untuk kemandirian pangan. Dengan berbagai aktivitas menanam sayuran yang memanfaatkan pekarangan rumah, ini sudah lama tapi baru trend beberapa tahun ke sini,” jelasnya.
Suparmono berharap, ikhtiarnya akan selaras dan seiring dengan hasil yang akan diperoleh kelak.
Meskipun, dia hanya ingin menikmati bagaimana hidup bermanfaat setelah masa baktinya pada lembaga pemerintahan usai.
”Purnatugas pasti, tapi purna pengabdian menjadi insan kamil alias manusia seutuhnya dalam kebermanfaatan tak pernah purna, setitik pun,” tandasnya. (cr8/amd).
Editor: Dzikrina Abdillah.










