YOGYAKARTA, Joglo News – Hamemayu Hayuning Bawono, filosofi Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, benar-benar diterapkan dalam pemerintahan. Khusus di DIY, hal ini mengatur untuk mempercantik dunia mulai dari air sampai kuda.
Asisten Sekretaris Daerah (Assekda) Bidang Perekonomian dan Pembangunan Trisaktiyana menegaskan, filosofi ini menjadi dasar bagi setiap organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemda DIY dalam bekerja.
Makanya, berbagai kebijakan dilakukan. Mulai mengatur air baku sampai kuda andong.
“Kita sudah bina juga pembuat andong. Semuanya kita urusi untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Trisaktiyana, di Podcast Pembangunan Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWPP).
Ia mengatakan, pendampingan ini dilakukan tak hanya untuk menjaga kelestarian andong.
BACA JUGA: Paskibraka DIY 2025, Agen Perubahan Penjaga Persatuan dan Nilai Pancasila
Tapi, juga memperhatikan kesejahteraan kuda penariknya.
“Kita harus perhatikan rujine koyo ngopo, pakune koyo ngopo, dan kudanya,” katanya.
Anggota Komisi C DPRD DIY Dr Aslam Ridho MAP mengatakan, Yogyakarta diberikan keistimewaan bukan karena wilayahnya saja.
Tapi, ada pertimbangan masyarakatnya sudah sadar mempertahankan tradisi dan budaya.
“Kalau transportasi ada becak dan andong. Dulu saya tinggal di desa, jarak dengan jalan raya 200 meter terdengar tik tak suara kuda penarik andong,” katanya.
Kebutuhan air baku, turut menjadi perhatian dari Biro PIWPP Setda DIY.
Biro PIWPP Setda DIY telah memiliki Perencanaan kebutuhan air baku dan pemenuhannya selama 20 tahun mendatang sudah disusun.
“Kita melihat kemudian dipikirkan sesuai dengan rencana induk yang sudah kita susun dan kemudian kita menyusun potensi-potensi sumber air baku yang mana yang bisa dimanfaatkan sumber air baku mana saja yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi potensi pemenuhan air bersih masyarakat,” jelas Pelaksana Tugas (Plt) Biro PIWPP Setda DIY Rosdiana Puji Lestari, ST, M.Eng, saat Podcast Pembangunan Biro PIWPP Setda DIY.
Apalagi, keburtuhan air baku baik itu untuk minum, mandi, mencuci pakaian dan yang lain di DIY ternyata belum terpenuhi semuanya.
Dari catatan Biro PIWPP Setda DIY tahun 2024 kebutuhan air minum baru 50 persen.
“Tahun 2024 pun kebutuhan air minum yang ada di DIY baru terpenuhi sekitar 50 persen,” kata Rosdiana.
Wakil rakyat di DPRD DIY memberikan sorotan terhadap perlombaan kampung iklim.
Dewan minta peserta lomba kampung iklim ini terus mendapatkan pendampingan.
“Program penghijauan, program kampung iklim selama ini penekanannya juara. Seharusnya, mereka ini yang tidak juara itu dibina terus agar kualitas udara yang baik ini merata di semua wilayah di DIY,” kata Anggota Komisi C DPRD DIY R. Inoki Azmi Purnomo S.Ag, dikutip dari Podcast Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PWIPP) Sekretariat Daerah (Setda) DIY.
Politikus dari PAN ini menegaskan, perlombaan yang bersifat seremonial kerap meninggalkan peserta yang tak juara.
Alhasil, secara rutin perlombaan tak menghasilkan peningkatan dari tujuan awal. Yaitu meningkatkan kualitas udara.
“Selama ini perlombaan hanya fokus di juara 1, 2, 3 tingkat kapanewon kemudian juara ke tingkat kabupaten seterusnya. Yang tidak juara, ini kemudian dilupakan,” katanya.










