Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM Prof dr Tri Wibawa menyoroti maraknya kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia menilai masyarakat dan tenaga pendidik perlu dibekali pengetahuan mengenai perbedaan antara alergi dan keracunan makanan. Selain itu, cara memberikan pertolongan pertama yang tepat.
ALERGI makanan dan keracunan makanan memiliki mekanisme berbeda. Alergi merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu dalam makanan.
Adapun keracunan disebabkan oleh masuknya kuman atau zat berbahaya melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi.
“Alergi bisa muncul segera setelah mengonsumsi makanan tertentu, bahkan dalam jumlah kecil, dan menimbulkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan, atau gangguan pencernaan. Sementara keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti sakit perut, muntah, dan diare beberapa jam hingga hari setelah makan,” jelas Prof dr Tri Wibawa, Jumat (10/10).
Tri menyebut, bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E.coli) merupakan penyebab umum keracunan makanan.
BACA JUGA: Penipu! Kakek 74 Tahun Nikahi Gadis Muda, Mahar Rp3 Miliar di Pacitan Ternyata Cek Palsu
Salmonella dapat menembus asam lambung dan memicu peradangan pada dinding usus.
E.coli penghasil toksin Shiga (STEC) bisa menyebabkan penyakit berat akibat makanan terkontaminasi.
Dalam konteks program MBG, dia menekankan pentingnya penanganan pertama yang cepat. Terutama, saat siswa menunjukkan gejala keracunan.
“Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting adalah mengganti cairan yang hilang agar tidak terjadi dehidrasi,” katanya.
Tri menyarankan agar penderita meminum air putih atau cairan elektrolit sedikit demi sedikit. Terutama bila muntah masih terjadi.
Bila kondisi semakin memburuk, wajib lanjut pertolongan medis.










