SLEMAN, Joglo News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sleman terus menjadi sorotan publik.
Selain memunculkan kasus keracunan massal yang menimpa ribuan siswa, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman juga menilai sejumlah menu kemasan yang disajikan dalam program tersebut tidak layak dikonsumsi. Termasuk oleh ibu hamil.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, mengungkapkan total korban yang mengalami gejala keracunan MBG mencapai 1.772 orang.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi. Tepatnya sejak awal pelaksanaan program hingga September 2025.
“Ada 1.772 orang (yang bergejala akibat MBG). Itu merupakan rekap data dari sejak awal ada MBG sampai dengan akhir bulan September 2025,” jelas Cahya saat dikonfirmasi, Minggu (19/10).
Data tersebut dihimpun dari pemantauan lapangan. Selain itu juga digunakan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) desk data bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
BACA JUGA: Waduh! Demi Konten KKN Desa Penari, Wisatawan Nekat Masuk Zona Bahaya Gunung Merapi
Cahya memaparkan, para siswa yang menjadi korban mengalami gejala beragam.
Mulai dari mual, muntah hingga diare. Adapun dari catatan medis, seluruhnya dinyatakan sembuh.
“Tidak ada yang meninggal. Semuanya sembuh,” katanya.
Untuk mencegah kasus serupa, Pemkab Sleman melalui Dinkes Sleman dan Satgas Percepatan Program MBG terus melakukan evaluasi.
Termasuk upaya peningkatan kapasitas penjamah makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Cahya menuturkan pembekalan bagi SPPG terjadwal 18 dan 19 Oktober 2025.
Seluruhnya wajib ikut karena menjadi syarat dalam pengurusan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SHLS).
“Diwajibkan karena SLHS itu juga syarat wajib dari BGN Pusat. Pengajuan melalui Online Single Submission (OSS) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sleman,” ujarnya.
Dari 92 SPPG di Kabupaten Sleman, 62 di antaranya sudah beroperasi, namun belum ada yang mengantongi SHLS. Hanya 13 dapur mitra PPJI yang telah tersertifikasi.
“Pelaksanaannya bertahap, nanti pelatihannya lewat LMS (learning management system),” katanya.
Sementara itu, Kepala Regional BGN DIY Gagat Widyatmoko memastikan seluruh SPPG sedang berproses menyelesaikan tiga sertifikasi wajib.
Di antaranya, SLHS, halal, dan sertifikasi chef.
Dia menargetkan pada November mendatang semua dapur MBG telah memiliki kelengkapan sertifikat. Ini guna menjamin keamanan pangan.
“Terus kamu kejar untuk SLHS-nya. Selain itu juga sertifikat halal dan sertifikasi chef atau juru masak. Ini sudah menjadi ketentuan tiga sertifikasi wajib untuk setiap SPPG,” ujarnya.
Di sisi lain, program MBG bagi ibu hamil turut menjadi perhatian Dinkes Sleman.
Dalam catatan ini adalah kelayakan penyajian dan menu bagi para ibu hamil.
Tercatat ada 791 ibu hamil dan ibu menyusui yang menjadi penerima manfaat program MBG di Sleman.










