YOGYAKARTA, Joglo News – Rumah tangga mana yang bayar listrik sebulan hanya Rp 12 ribu. Itu tetap menggunakan listrik normal.
Seperti untuk menanak nasi, air minum, air bersih, peralatan listrik biasa, dan lampu.
Di Dusun Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, benar-benar hanya Rp 12 ribu.
Itu untuk iuran perawatan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
PLTMH Kedungrong ini mampu menerangi 50 rumah warga di Kedungrong.
Dengan daya sekitar 8.000 KV, 50 kepala keluarga ini tak lagi bergantung dari PLN sebagai sumber listrik.
Pengelola PLTMH Kedungrong R. Rejo Andoyo menjelaskan, warga sempat menolak pembangunan PLTMH ini.
Tahun 2012, Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) melakukan sosialisasi.
BACA JUGA: Rekam Jejak FKY: Dedikasi Perupa Yogyakarta Hadirkan Pesan Sosial Lewat Karya
“Dulu belum ada Powerpoint. Baru sebatas omong-omong warga sudah menolak,” kata Rejo saat tapping Podcast Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWPP) Sekretariat Daerah (Setda) DIY, Kamis (16/10).
Rejo mengungkap, warga berubah sikap usai ada gambar dalam slide.
Gambar berbentuk bendungan dan instalasi itu langsung mengubah sikap dari menolak menjadi mendukung rencana pembangunan PLTMH Kedungrong.
“Gambarnya dikasih bendungan, dikasih instalasi listrik, langsung berubah mau,” katanya.
Penelaah Kebijakan Teknis Biro PIWPP Setda DIY Ahmad Arif Tsalatsa S.E., menjelaskan, potensi energi terbarukan di DIY sebenarnya sangat besar.
Baik itu yang bersifat komunikasi seperti PLTMH Kedungrong maupun yang besar.
“Di DIY ada PLTH (Pembangkit Listrik Tenaga Hybird Angin dan Surya) di Pantai Baru untuk pariwisata,” kata Arif.
Ia mengatakan, ada banyak tantangan dalam pembangunan energi terbarukan di DIY.
Belajar dari PLTH Pantai Baru, transfer teknologi menjadi sangat penting dalam menjaga eksistensi energi terbarukan.
“Rencana umum 2050 dan RPJMD, potensi energi terbarukan relatif terbatas pada skala komunitas. Pemanfaatan energi terbarukan ini tergantung dari sumber energi. Seperti PLTMH, butuh aliran air deras, membutuhkan sumber daya yang banyak. Transfer teknologi menjadi solusi,” katanya.










