Perjalanan seni rupa di Kota Yogyakarta sangat panjang. Keberadaan seniman ini pun kerap beririsan dengan gerakan sosial di masyarakat. Ini terekam saat pameran Rekam Jejak di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG).
KURATOR Pameran Rekam Jejak Rain Rosidi menjelaskan, Kota Yogyakarta memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni rupa.
“Saat terjadi gerakan sosial dan nasionalisme di Kota Yogyakarta berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia pada tahun 1950,” katanya.
Ia menambahkan, dalam perjalanan tersebut, banyak berbagai peristiwa yang melibatkan seniman.
Ini pula yang mereka sajikan terhadap pengunjung di TBEG Giwangan, pekan lalu.
“Kerja seni bukan sekadar menciptakan benda indah, tetapi juga menyertakan gagasan kreatif dan pesan sosial. Itulah semangat yang ingin kami hadirkan melalui Rekam Jejak,” katanya.
Menurut Rain, proses persiapan pameran dilakukan dalam waktu singkat namun dengan kerja keras dan kolaborasi intens para seniman.
BACA JUGA: Imbas Kasus Keracunan, Wali Kota Yogya Tutup Sementara Dapur MBG Wirobrajan
“Selama empat hari penuh, para seniman dan tim bekerja menyiapkan tata ruang, panel, hingga pencahayaan yang layak agar setiap karya bisa dinikmati secara maksimal. Ini bentuk dedikasi mereka yang luar biasa,” katanya.
Ia mengatakan, pameran tersebut menampilkan karya dari 30 perupa. Mereka ymerekam perjalanan panjang mereka dalam dunia seni rupa.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menambahkan, eksplorasi tema rekam jejak menunjukkan dedikasi dari perupa-perupa di Kota Yogyakarta.
“Terima kasih sudah mewarnai TBEG. Kami berharap TBEG masih baru, monggo silakan bisa dimanfaatkan untuk bisa menyajikan karya-karya terbaik. Punya luas 3,5 hektare bisa di luar ruangan,” kata Yetti.










