SLEMAN, Joglo News – Demi mendapatkan konten layaknya film fenomenal KKN di Desa Penari, sejumlah wisatawan nekat melanggar larangan.
Tepatnya dengan mendaki ke area terlarang di Gunung Merapi. Padahal, kawasan tersebut masuk dalam zona bahaya dengan topografi curam dan tidak termasuk area wisata yang diizinkan.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Muhammad Wahyudi mengungkapkan, aksi ini terungkap dari unggahan di media sosial, terutama TikTok.
Berupa aktivitas wisata di kawasan Bukit Kukusan, wilayah administratif Kabupaten Klaten.
“Bukit Kukusan ini bukan termasuk zona pemanfaatan atau area yang diperbolehkan untuk kegiatan wisata. Lokasinya berada dalam radius dua kilometer dari puncak Merapi dan sangat berbahaya karena diapit jurang di sisi kiri, kanan, dan depan,” jelas Wahyudi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (19/10).
BACA JUGA: Titis Ajeng Serap Aspirasi Warga, Dorong KDMP dan MBG Berjalan Maksimal
Fenomena ini muncul akibat tren konten yang meniru lokasi-lokasi populer seperti Plunyon.
Lokasi tersebut merupakan lokasi syuting film KKN di Desa Penari dan Badarawuhi.
Demi eksis di media sosial, sejumlah pengunjung mencoba mencari lokasi-lokasi baru di sekitar lereng Merapi.
Di satu sisi, tanpa memahami batas aman dan aturan konservasi yang diterbitkan oleh Balai TNGM.
“Menindaklanjuti temuan tersebut, Balai TNGM mengambil langkah tegas dengan menginventarisasi akun-akun media sosial yang mengunggah konten di Bukit Kukusan serta meminta mereka take down unggahan yang berpotensi menyesatkan publik,” katanya.
Selain itu, pada Kamis 16 Oktober 2025 lalu, petugas Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Wilayah Kemalang dan Cangkringan melakukan patroli ke Bukit Kukusan.
Hasilnya menemukan empat wisatawan yang sedang melakukan tracking. Masing-masing berinisial RD, FP, dan S asal Sleman, serta WL asal Klaten.
“Petugas sudah memberikan sosialisasi mengenai bahaya aktivitas di kawasan itu, batas aman, dan lokasi wisata resmi yang bisa dikunjungi. Mereka juga bersedia menghapus dokumentasi yang sempat diambil,” ujarnya.










