SLEMAN, Joglo News – Upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menekan angka stunting menunjukkan hasil positif.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sleman, angka prevalensi stunting tahun 2025 turun menjadi 4,29 persen, dari sebelumnya 4,41 persen.
Tercatat saat ini tercatat 2.050 balita di Sleman mengalami stunting.
Meski mengalami penurunan, sejumlah faktor masih memengaruhi munculnya kasus baru.
Terutama kebiasaan merokok dalam keluarga disamping asupan gizi yang tidak seimbang.
Kondisi ini terjadi pada keluarga yang terdapat perokok berat dan cenderung abai kesehatan bayi dan ibu hamil.
“Jumlah anggota keluarga yang merokok masih cukup tinggi, mencapai sekitar 66,5 persen. Ini berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, karena paparan asap rokok di rumah dapat mengganggu asupan oksigen bayi dan meningkatkan risiko stunting,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama saat ditemui dalam paparan angka stunting Kabupaten Sleman di Hotel Prima SR, Selasa (21/10).
BACA JUGA: Raih Dua Penghargaan Nasional, Immey Aninditha Gaungkan Semangat “Produsen Batik Muda”
Menurutnya, residu nikotin dari asap rokok bisa menempel di pakaian, meja, maupun sofa.
Partikel ini tanpa disadari terhirup oleh bayi, ibu hamil maupun menyusui.
Kondisi ini jika berlarut dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan menurunkan daya tahan tubuh.
Oleh karena itu, Pemkab Sleman terus mendorong Gerakan Keluarga Sehat Bebas Asap Rokok atau GAS BRO.
Langkah ini untuk menciptakan lingkungan sehat bagi ibu hamil dan anak balita.
“Masih banyak yang menyepelekan, padahal ini penting meski sederhana. Ciptakan kondisi tanpa asap rokok di dalam rumah. Kalau mau merokok ya keluar, atau jauh dari rumah,” katanya.
Selain faktor rokok, asupan gizi yang tidak tepat juga menjadi penyebab dominan.
Banyak ibu hamil dan ibu menyusui yang masih belum memperhatikan kualitas makanan. Sehingga berdampak pada pertumbuhan janin dan bayi.
“Kalau makanan seadanya, bayi bisa lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan berisiko stunting. Karena itu, sejak masa kehamilan, pemantauan gizi dan kesehatan ibu harus dilakukan secara rutin,” ujarnya.
Cahya menambahkan, kesehatan jiwa ibu juga berperan penting dalam pencegahan stunting.
Ibu hamil dan menyusui diimbau untuk menghindari stres dan kecemasan berlebih.
Ini karena dapat memengaruhi kualitas pemberian ASI dan asupan gizi anak.
“Peran lingkungan penting, ibu hamil dan menyusui jangan sampai stres. Ini dampaknya ke asupan bayi dan balitanya. Terutama, di seribu hari pertama kelahiran,” katanya.
Dari data Dinas Kesehatan, terdapat empat kapanewon dengan angka stunting tertinggi.
Di antaranya, Kapanewon Pakem 6,51 persen, Minggir 6,19 persen, Seyegan 6,00 persen, dan Turi 5,90 persen.
Sementara Kapanewon Berbah menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, yakni 3,2 persen.
Upaya itervensi stunting di Sleman dilakukan melalui dua pendekatan.










