SANITASI kerap dianggap sepele masyarakat. Mereka tidak memikirkan dampak pencemaran dari pembuangan air limbah maupun sampah.
Padahal, pencemaran dari air limbah maupun sampah ini mampu mengancam kesehatan masyarakat.
”Saat ini kami masih fokus untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi aman dari air limbah dan sampah,” kata Analis
Kebijakan Ahli Muda Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWPP) Sekretariat Daerah (Setda) DIY Agung Setyawan, S.E., saat Podcast Biro PIWPP DIY Setda DIY.
Agung menjelaskan, kesadaran masyarakat akan sanitasi aman ini masih belum begitu tinggi.
Terlebih, kebiasaan masyarakat selama ini yang hanya cukup membuang sampah pada tempatnya. Padahal, saat ini sampah di DIY terus ditekan.
”Kami sudah memiliki acuan di Pergub No 40 Tahun 2022 yang menjadi acuan dari kabupaten dan kota serta Pemda DIY untuk bersinergi,” katanya.
BACA JUGA: Kesadaran Sanitasi Masih Rendah, DPRD DIY Minta Sosialisasi dan Infrastruktur Ditambah
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Ari Budi Nugroho, S.T., M.Sc. menambahkan, sanitasi aman dan layak terutama untuk air limbah menjadi sangat penting. Karena berkaitan dengan air sumur dan air tanah.
”Bantul sudah ada beberapa pola. Pengolahan air limbah setempat. Tingkat risiko sangat tinggi. Kalau pemahaman kurang baik bisa mencemari lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, di Bantul sudah memiliki penanganan air limbah terpusat.
Yaitu Saluran Pengolahan Air Limbah (SPAL) untuk level perkotaan dengan kapasitas mencapai 6 ribu sambungan rumah (SR).
”Di Bantul SPAL terpusat, di Bambang Lipuro. Di Sewon, dua kabupaten satu kota. Sanitasi berikutnya sampah. Beberapa puluh yang tahun lalu kumpul, angkut buang. Sampah ditangani, masing-masing kabupaten. Di Bantul punya bank sampah, TPST, dan TPS3R. belum bisa menyeluruh. Secara bertahap, anggaran, kesadaran masyarakat, dan tempat,” jelasnya.
Ia menegaskan, di Kabupaten Bantul yang secara geografis berada di hilir DIY.
Ini menjadi tantangan bagi Kabupaten Bantul dalam menjaga lingkungan. Terutama, Sungai yang tetap menjadi pembuangan air limbah yang telah diolah IPAL.
”Bantul daerah hilir. Kalau sanitasi ini, kalau IPAL diolah kan dibuang ke badan air. Mengalirnya ke Bantul. Sehingga pencemarannya ke Bantul. Bebannya. Kalau melebihi baku mutu berbahaya,” katanya.










