YOGYAKARTA, Joglo News – Di balik anggunnya kain batik yang sarat filosofi, tersimpan semangat yang terus tumbuh dari generasi muda.
Salah satunya datang dari sosok Immey Aninditha Wanudya, Duta Batik Daerah Istimewa Yogyakarta 2025.
Bagi mahasiswi semester satu STIE YKPN Yogyakarta itu, setiap goresan malam dan warna pada kain batik menyimpan cerita, sejarah dan jati diri.
Keyakinan itu yang mengantarkannya meraih dua prestasi di ajang nasional, di Surabaya, 16–18 Oktober lalu.
Yakni Top 10 Duta Batik Indonesia 2025 dan Duta Inspiratif Batik Indonesia 2025.
Di ajang tersebut, Immey mengusung program advokasi bertajuk Menjadi Produsen Batik Muda.
Gagasan itu lahir dari kehidupannya sebagai keturunan keluarga pembatik di Bantul yang masih aktif hingga kini.
BACA JUGA: KRONOLOGI KA Harina Tabrak Truk di Kaligawe Semarang, Lalu Lintas Macet Panjang!
Melalui program tersebut, ia ingin membuktikan bahwa generasi muda bukan hanya sebagai pemakai, tapi juga pembuat.
“Saya keturunan pengrajin batik dari simbah yang dulu abdi dalem keraton. Sekarang usaha batiknya diteruskan ibu dan saya ikut bantu juga. Dari sekian banyak finalis, cuma ada dua yang keluarganya pengrajin batik. Saya salah satunya. Jadi saya bawa isu itu ke nasional,” tuturnya, Selasa (21/10).
Perjalanan menuju panggung nasional tidaklah mudah. Immey mengaku sempat terlambat mengumpulkan beberapa penugasan, karena belum cukup dana untuk menyewa fotografer dan editor.
Namun, berkat dukungan keluarga, akhirnya bisa menuntaskan semua kewajiban.
“Kendalanya lebih ke finansial. Karena lomba seperti ini butuh banyak banget biaya. Dari pembuatan video profil, busana batik glamor, sampai oleh-oleh khas provinsi,” ungkapnya.
Awalnya, ia sempat memakai uang dari pendapatan keluarga terlebih dahulu.
“Tapi setelah dirasa banyak banget kebutuhannya, akhirnya saya dibantu ibu buat proposal sponsor. Alhamdulillah, akhirnya dapat,” imbuhnya.
Selain latar belakang keluarga, Immey juga memiliki ketertarikan dengan sejarah dan seni.
Ia merasa, membatik adalah media untuk mengekspresikan ide dan perasaan.
“Batik itu bukan cuma kain, tapi karya yang bisa jadi wadah curhat hati dan pikiran,” katanya.










