REMBANG, Joglo News – Anjloknya harga tomat di pasaran tak membuat Kelompok Wanita Tani (KWT) Pergiwati di Desa Trahan, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, patah semangat.
Alih-alih merugi, para ibu tangguh ini justru memutar otak dan berhasil menciptakan inovasi unik: Torakur, tomat rasa kurma yang kini jadi primadona baru dan mendongkrak nilai jual tomat hingga delapan kali lipat.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sluke, Siti Marjidah, menjelaskan bahwa produksi torakur masih dilakukan dalam skala kecil karena terkendala pemasaran.
“Belum bisa produksi setiap hari, biasanya dua atau tiga hari sekali, tergantung pesanan,” ujarnya, belum lama ini.
BACA JUGA: “Shutter” Versi Indonesia Hadir! Vino G. Bastian & Anya Geraldine Ungkap Teror dari Masa Lalu
Produk olahan tersebut sudah mulai dikenal dan dipasarkan di sejumlah tempat, seperti ILP Posyandu, kantin PLTU, pasar tani, hingga lewat pemesanan online (COD).
“Kalau stok habis baru kami buat lagi. Sekali produksi minimal pakai 10 kilogram tomat segar. Prosesnya lumayan panjang, mulai dari mencuci, membuang biji, sampai penjemuran,” tambahnya.
Dalam satu kali produksi, KWT Pergiwati melibatkan tiga hingga empat anggota. Semua tomat dipilih dengan cermat untuk menjaga kualitas rasa dan tekstur.
“Kami ambil tomat yang betul-betul bagus dari pasar supaya hasilnya maksimal,” jelas Siti.
Ia menyebutkan, harga torakur jauh lebih tinggi dibanding tomat mentah.
“Satu kilogram torakur dijual Rp65 ribu. Kalau dikemas kecil seharga Rp5 ribu atau Rp2 ribu per bungkus malah lebih cepat laku dan untungnya lebih besar,” paparnya.










