Wednesday, January 21, 2026
  • HOME
  • YOGYAKARTA
    • Kota Yogyakarta
    • Bantul
    • Sleman
    • Gunungkidul
  • SEMARANG RAYA
    • Kota Semarang
    • Kab. Semarang
    • Kendal
      • Demak
  • MURIA RAYA
    • Kudus
    • Jepara
    • Pati
    • Rembang
  • PEMALANG RAYA
    • Pemalang
    • Kota Pekalongan
    • Kab. Pekalongan
    • Batang
  • BANYUMAS RAYA
    • Banyumas
    • Purbalingga
  • RELIGI
  • WISATA
  • KULINER
  • FIGUR
No Result
View All Result
Joglo News
  • HOME
  • YOGYAKARTA
    • Kota Yogyakarta
    • Bantul
    • Sleman
    • Gunungkidul
  • SEMARANG RAYA
    • Kota Semarang
    • Kab. Semarang
    • Kendal
      • Demak
  • MURIA RAYA
    • Kudus
    • Jepara
    • Pati
    • Rembang
  • PEMALANG RAYA
    • Pemalang
    • Kota Pekalongan
    • Kab. Pekalongan
    • Batang
  • BANYUMAS RAYA
    • Banyumas
    • Purbalingga
  • RELIGI
  • WISATA
  • KULINER
  • FIGUR
No Result
View All Result
Joglo News
No Result
View All Result
  • HOME
  • YOGYAKARTA
  • SEMARANG RAYA
  • MURIA RAYA
  • PEMALANG RAYA
  • BANYUMAS RAYA
  • RELIGI
  • WISATA
  • KULINER
  • HIBURAN
  • FIGUR
Home YOGYAKARTA Bantul

Kehilangan Generasi Penerus dan Upaya Merawat Batik Tulis Warisan Kerajaan Mataram

Janika IrawanbyJanika Irawan
08/11/2025
0
Kehilangan Generasi Penerus dan Upaya Merawat Batik Tulis Warisan Kerajaan Mataram

PERAJIN BATIK: Suhir, perempuan 96 tahun yang masih setia membatik. (JANIKA IRAWAN/JOGLO NEWS)

Share on FacebookShare on Twitter

“Perasaan saya itu, aduh. Akhirnya batik itu terus bagaimana kalau enggak ada yang melanjutkan? Padahal, batik itu kan kebudayaan, ya,” kata Hartinah.

BANTUL, Joglo News – Jiwanya seolah tak menua kendati fisiknya kian melemah. Penglihatannya masih tajam. Ia masih lancar menggoreskan canting malam (lilin) panas dengan presisi mengikuti pola. Hanya pendengarannya yang sudah tak berfungsi sempurna. Namanya Suhir, perempuan yang masih setia membatik meski usianya nyaris se-abad, 96 tahun.

Di teras rumah tempatnya tinggal, sehelai kain selalu terkulai di gawangan. Aroma malam panas di atas tungku kecil menusuk-nusuk hidung. Sebelum para pekerja berangkat ke kantor, sebelum petani mencangkul di ladang, Mbah Suhir sudah sibuk bergelut dengan canting dan kain mori. Pukul enam pagi, ia mulai membatik. Melukis motif dengan malam panas yang ditorehkan di kain mori putih.

Pukul sembilan pagi, saat saya datang ke rumahnya Rabu, 22 Oktober 2025, Mbah Suhir terlihat tekun membatik. Saya di sambut anaknya, Nur Mukromah, 50 tahun. Anak bungsu yang tinggal serumah dengan Mbah Suhir.

“Zuhur istirahat salat. Setelah itu tidur biasanya. Nanti pas bangun mbatik lagi,” kata Nur Mukromah menjelaskan kebiasaan ibunya.

Dulu, Mbah Suhir menjual langsung batik buatannya ke Kota Yogyakarta. Dari rumah Mbah Suhir berangkat menggunakan bus. Namun, hal itu tidak bisa ia lakukan lagi, usia yang kian menua merenggut kekuatan fisiknya. Walau pun, hingga sekarang, di usia 96 tahun Mbah Suhir masih terlihat kuat berjalan kaki.

“Dulu itu ngingoni (menghidupi) anaknya dari batik itu. Dulu mudah jual batik itu. Sekarang ora payu (tidak laku). Di Jogja itu sukar. Dulu itu kebutuhan sehari-hari dari batik itu,” ujar Nuryatun, 64 tahun, anak ke empat Mbah Suhir, mengenang masa itu.

Hartinah, 83 tahun, pembatik tertua Giriloyo setelah Mbah Suhir yang juga masih setia mempertahankan tradisi batik tulis. Setiap hari ia selalu membatik. Di usianya yang sudah renta aktivitas membatik tidak lagi terikat oleh waktu, kadang ia mulai pukul delapan, kadang pukul sembilan pagi.

“Ya, membatik, tapi ya pokoknya semaunya saja. Pokoknya yang penting sudah selesai nyuci, bersih-bersih, baru mulai mbatik. Sudah enggak pasti,” kata Mbah Hartinah, Selasa, 29 Oktober 2025.

“Nanti kalau sudah zuhur kan salat. Habis salat tidur, biasanya 2 jam, terus nanti bangun mbatik lagi kalau masih ada waktu.”

SETIA: Hartinah, 83 tahun, pembatik tertua Giriloyo setelah Mbah Suhir yang juga masih setia mempertahankan tradisi batik tulis. (JANIKA IRAWAN/JOGLO NEWS)

Di usia senjanya, Mbah Hartinah bisa saja memilih hanya duduk berdiam diri tanpa harus bekerja membatik. Namun bagi Hartinah membatik bukan sekedar beban pekerjaan. Di usia yang tak lagi muda, membatik adalah caranya menuai kebahagiaan.

“Orang banyak saja yang ngasih tahu, ‘Mbah, mbatik untuk apa? Duduk saja sudah ada uang’, katanya. Ya kan untuk senang-senang. Mosok (kenapa) mbatik untuk apa. Ya, biar pun ada uang, tapi kan senangnya saya mbatik itu,” ujarnya.

Sepotong kain batik jadi membutuhkan proses panjang. Satu kain setidaknya butuh waktu satu bulan penuh. Semakin menua, kemampuan juga mulai menurun. Hartinah bisa menghabiskan waktu tiga bulan lamanya untuk selembar kain batik.

Menggambar pola atau menutupi pola batik dengan malam membutuhkan sekitar satu bulan. Setelah itu batik yang sudah di beri malam masuk tahapan pewarnaan. Untuk pewarnaan ini Hartinah mengirimnya ke Solo. Menurutnya pewarnaan di sana bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu.

“Warna hitamnya kan saya kirim ke Solo. Terus setelah dari Solo dicecek lagi pakai canting paling kecil. Jadi, proses batik itu lama sekali. Pokoknya, 3 bulan baru jadi,” kata Hartinah.

Mbah Hartinah mengirimkan batik untuk diwarnai ke Solo bukan tanpa alasan. Selain kemampuan untuk mewarnai sudah tak mungkin ia lakukan di tengah fisiknya yang mulai melemah, kualitas juga jadi pertimbangan penting.

Dulu pewarnaan dilakukan secara mandiri, namun hasil yang didapat kurang maksimal. Menurutnya, pewarnaan yang mereka lakukan kerap kali merusak malam yang merupakan motif batik itu sendiri.

“Dulu pernah, sebelum tahu di Solo itu diwarnai sendiri. Setelah tahu di Solo ya kirim saja ke Solo,” jelasnya.

Pada saat masih muda Mbah Hartinah masih bisa menghasilkan satu potong kain batik dalam satu bulan. Namun, di usianya yang sudah menginjak kepala sembilan, kemampuan itu seolah telah menghilang. Kemampuan memola sudah tidak bisa ia lakukan.

Proses memola atau menggambar sketsa awal ini butuh ketelitian. Butuh ketajaman mata untuk melihat bayangan pola kertas yang diletakkan di balik kain. Dan, hal yang paling penting gerakan tangan harus presisi. Tidak boleh bergetar atau tremor. Sedikit bergerak maka pola akan kacau. Selain itu, kemampuan lain yang sudah tak lagi ia kuasai yaitu nyecek. Proses penyempurnaan motif pada kain batik menggunakan canting paling kecil setelah pewarnaan awal.

“Mola sudah enggak bisa, ini yang mola orang lain,” ujarnya sembari ngelowong motif batik Semen Sinom Garuda. Pekerjaan membatik yang sedang ia lakukan saat saya datang menemuinya.

“Nyecek juga sudah enggak bisa. Saya cuman ngelowong sama nembok. Makanya bisa tiga bulan baru jadi. Kalau zaman dulu satu bulan bisa satu lembar. Sekarang sudah, pokoknya enggak bisa.”

Bagi anak-anak remaja, sepulang dari sekolah merupakan waktu luang untuk bermain. Namun, hal itu berbeda bagi remaja perempuan di Giriloyo waktu itu. Setelah lonceng sekolah berbunyi, para remaja perempuan akan pulang ke rumah, mengganti pakaian, makan, selanjutnya mereka langsung belajar membatik.

Hal itu diingat betul oleh Hartinah. Sejak usianya remaja, 10 tahun, ia sudah belajar membatik.

“Kalau saya, ceritanya pulang dari sekolah, ibu saya itu, ya, maaf, agak keras, agak galak sedikit gitu. Pulang sekolah sudah, ganti pakaian, habis itu makan, terus ke tempat si Mbah belajar, gitu. Di perintah orang tua begitu, ya, manut saja, kalau sekarang, enggak,” cerita Hartinah.

Belajar membatik memerlukan proses yang panjang dan tak mudah. Butuh waktu bertahun-tahun agar jemari dan gerakan tangan bisa menghasilkan motif yang rapi dan halus. Mbah Hartinah mengingat masa-masa awal ia mulai berkenalan dengan canting, ia hanya diajari nglowong.

“Itu umur 10 tahun belajarnya cuman nglowong. Lah, bisa menguasai batik itu umur 18 tahun. Bisa nglowong, nyecet, nembok, gitu.”

Di usia senjanya, seolah semua berubah. Membatik bukan lagi jadi pengetahuan dan kemampuan dasar bagi remaja. Dulu remaja perempuan diajari membatik. Selain itu ada semacam keharusan bagi perempuan untuk bisa membatik. Maka tak pelak jika pernah ada istilah: apa pun yang diperintah orang tua tidak boleh dilawan.

Zaman berubah, mungkin betul apa yang dibilang Mbah Hartinah, yang ada sekarang sebaliknya. “Kalau sekarang anak SMP saja suruh belajar membatik enggak mau, SMA apa lagi! Sudah SMA, ya, nanti cari kerajaan di toko atau di mana gitu. Sekarang enggak ada yang belajar membatik. Coba lihat saja, sekarang anak-anak kecil itu, pokoknya main HP. Kalau dulu kan beda, orang jaman dulu, orangnya itu masih setia sama orang tuanya. Masih manut kalau dikasih tahu, kalau sekarang ya mbantah,” tegas Hartinah terlihat sedikit emosional.

TRADISI: Desa Wisata Wukirsari di Kecamatan Imogiri, Bantul, bukan sekadar destinasi wisata, melainkan napas kebudayaan yang terus dihidupi salah satunya lewat batik tulis Giriloyo. (JANIKA IRAWAN/JOGLO NEWS)

Gempa 2006 Tonggak Kebangkitan Batik Giriloyo

Di kampung Giriloyo yang berada persis utara Bukit Merak tempat Makam Raja-raja Mataram, suara canting dan aroma malam panas telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak ratusan tahun silam. Desa Wisata Wukirsari di Kecamatan Imogiri, Bantul, bukan sekadar destinasi wisata, melainkan napas kebudayaan yang terus dihidupi yang salah satunya lewat batik tulis Giriloyo.

Tahun 1632, makan Raja-raja Mataram di bangun. Dua tahun setelahnya, 1634, warga sekitar bukit merak yaitu desa Giriloyo (sebelum bergabung jadi Wukirsari) yang meliputi Giriloyo, Karangkulon, dan Cengkehan dikenalkan tata cara membatik. Membatik yang awalnya hanya bagi kalangan kraton akhirnya dikenal dan dikerjakan masyarakat.

“Batik yang awalnya dulu cuma dikerjakan oleh putri-putri raja, keluarga raja, akhirnya bisa berkembang di tempat ini,” terang Nur Ahmadi, Ketua Desa Wisata Wukirsari, saat ditemui Minggu sore, 26 Oktober.

Berbagai motif batik warisan kerajaan Mataram masih dilestarikan hingga saat ini. Sebut saja, Sido Mukti, Wahyu Temurun, Sido Asih, Wahyu Temurun, dan berbagai motif lain.

Sejak tahun 1634 hingga tahun 1980-an, pembatik Giriloyo hanyalah sebagai buruh. Mereka membatik di atas kain mori, kemudian dibayar atas jasa tersebut. Tahun 1982 merupakan tonggak perubahan pertama, dari buruh menjadi pembatik yang punya kebebasan atas karya mereka. Mereka yang membuat, mereka juga yang menjualkan produk jadi, kain batik.  Awalnya dimulai dari berdirinya kelompok batik Bimasakti, yang diketuai Hartinah.

Hartinah mengingat betul masa itu. Waktu itu, 1982, kata Hartinah, para perempuan pembatik dikumpulkan oleh lurah kala itu. Mereka dari yang sebelumnya hanya membatik di atas kain putih, menggambar motif dengan malam panas, akhirnya diberikan pelatihan membatik hingga betul-betul jadi kain batik.

“Pak lurah itu mungkin kerja sama dengan dinas perindustrian, dengan perdagangan atau bagaimana, saya kurang tahu, ya. Dikumpulkan di tempatnya pak lurah dulu, itu yang dikumpulkan kira-kira ada 60 orang ibu-ibu,” ceritanya.

Namun, berjalannya waktu, dari 60 ibu-ibu itu akhirnya muncul inisiatif untuk mendirikan kelompok. Para ibu-ibu tersebut kemudian memecahkan diri menjadi 7 kelompok. Satu-satu kelompok yang kemudian masih bertahan hingga sekarang yaitu kelompok Bimasakti yang digawangi Hartinah.

“Terus tahun 85 itu saya bilang begini sama teman kelompok saya, ‘baiknya bagaimana kalau kelompok kita itu ditempatkan di tempat saya’. Terus dari mulai 85 itu sampai sekarang di tempat saya,” kata Hartinah.

Tonggak kebangkitan besar terjadi setelah gempa bumi berkekuatan 6,3 Magnitudo, 27 Mei 2006, yang mengguncang Bantul dan sekitarnya. Gempa yang berlangsung 57 detik itu menewaskan 5.782 orang dan 26.299 orang korban luka berat dan ringan.

Setalah gempa ini, semua aktivitas membatik terhenti total.  Warga fokus menghilangkan trauma dan memperbaiki rumah mereka yang rusak akibat gempa. Hingga kemudian, tahun 2007 warga kembali menghidupkan tradisi dan budaya bati tulis.

“Tahun 2007 kami bersama tokoh masyarakat dan masyarakat berkumpul, akhirnya bikin satu gerakan, yaitu membuat selendang sepanjang 1000 meter. Masuk rekor Muri pada waktu itu. Peristiwa itu merupakan salah satu tonggak sejarah kebangkitan batik yang ada di Wukirsari atau di Giriloyo,” kata Nur Ahmadi.

Setahun setelahnya, kampung batik Giriloyo mulai menerima kunjungan wisatawan. Lalu pada tahun 2009 pihaknya mulai mengembangkan kampung Batik Giriloyo sebagai pusat eduwisata. Tidak hanya menerima kunjungan wisatawan, mereka juga menyediakan paket edukasi membatik. Dari situ jumlah kunjungan terus mengalami peningkatan signifikan.

Pada tahun 2019 jumlah kunjungan tembus 29.000 orang. Namun setelah itu, pandemi Covid-19 kembali menurunkan jumlah kunjungan. Dua tahun berturut-turut jumlah pengunjung hanya berkisar diangka 7.000-8.000 pengunjung.

“Di tahun 2022, kunjungan wisatawan itu kembali meningkat. Kunjungan di tahun itu tembus 24.000. Walaupun masih di bawah 2019, tapi sudah lumayan jauh naik dari pada di tahun 2021,” jelasnya.

Dalam tiga tahun pasca pandemi Covid-19, Desa Wisata Wukirsari yang memilik ikon batik tulis dan wayang kulit ini makin menguatkan eksistensinya. Tercermin lewat berbagai penghargaan yang mereka raih. Masuk 100 besar ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) tahun 2022, setahun setelahnya mendapatkan penghargaan juara pertama ADWI kategori desa wisata maju.

Tahun berikutnya, 2024, Wukirsari meraih penghargaan bergengsi “The Best Tourism Village 2024” dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Salah satu di antara 55 desa wisata dari berbagai negara yang menyajikan keunikan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan inovasi pariwisata.

“Juara ini hanya sebagai bonus. Karena semuanya, kami menganggap sebagai juara tatkala warga kami sudah bisa menikmati dampak dari adanya pariwisata,” kata Ahmadi.

Berbagai penghargaan ini juga beriringan dengan tingkat kunjungan. Sepanjang tahun 2023 kunjungan tembus di angka 40.000 orang. Pada tahun 2024 tercatat dikunjungi 45.000 wisatawan. Omset dari paket wisata dan penjualan batik ditaksir sekitar Rp 2,3 miliar tahun 2023 dan Rp2,8 miliar pada tahun 2024. Meningkatnya jumlah kunjungan memberikan dampak positif bagi para pengrajin batik.

“Jadi, selama 1 tahun, karena jumlah kunjungan wisatawannya mencapai 40.000, kurang lebih ada 8.000 warga atau 8.000 pembatik yang terbantu dengan adanya desa wisata.”

Berbagai dukungan pengembangan kampung batik juga datang dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, Pertamina, hingga perusahaan swasta seperti Astra melalui program Desa Sejahtera Astra.

Nur Ahmadi menganggap berbagai bantuan ini menjadi penguat dan dukungan bagi pelestarian batik tulis Giriloyo. “Bentuk bantuan yang kami dapatkan ada yang berupa bantuan bangunan seperti limasan untuk showroom. Atau pun bantuan pembiayaan untuk berbagai kegiatan, pelatihan pemasaran dan lain sebagainya,” katanya.

BAHAGIA: Bagi Hartinah membatik bukan sekedar beban pekerjaan. Di usia yang tak lagi muda, hanya dengan membatik ia bisa merasakan kebahagiaan. (JANIKA IRAWAN/JOGLO NEWS)

Kehilangan Generasi, dan Upaya Merawat Batik Tulis

Dibalik perkembangan kampung batik tulis Giriloyo, ada problem mendasar yang tak terhindarkan: regenerasi. Lantas apakah batik Giriloyo, salah satu pelestari batik tulis ini akan terus bertahan. Di tengah usia para pembatik yang kian menua, berapa tahun lagi batik Giriloyo, pewaris utama batik Kerajaan Mataram akan ada?

Belum lagi ditambah dengan maraknya eksistensi batik cap. Batik yang hanya meniru pola dan warna tanpa memedulikan proses. Yang dibuat dengan waktu singkat, tetap menawarkan pakaian yang tampak elegan dan mewah, serta dijual dengan harga murah.

Hilangnya regenerasi ini dirasakan oleh dua pembatik tertua di Giriloyo, Mbah Suhir dan Mbah Hartinah. Tak ada satu pun anak dari kedua pembatik sepuh itu yang mengikuti jejak mereka.

Mbah Suhir, punya delapan anak, lima perempuan dan tiga laki-laki. Lima anak perempuan Mbah Suhir nyaris sudah meninggalkan aktivitas membatik. Satu-satunya yang masih membatik, Nur Mukromah. Namun, Nur Mukromah punya keterbatasan psikologis.

Nuryatun, anak ke empat Mbah Suhir mengaku dulu saudara-saudaranya aktif membatik. Namun setalah punya suami dan tidak tinggal di Wukirsari, aktivitas membatik itu ditinggalkan.

Nuryatun juga pernah membatik, tapi seperti saudaranya, aktivitas itu hanya tinggal kenangan. “Dulu saya juga mbatik. Sekarang enggak, saya jualan pisang itu di pasar,” jawabnya sambil tersenyum sembari melihat ibunya, Mbah Suhir, menggoreskan canting perlahan di atas kain mori.

Sama halnya dengan Mbah Hartinah dua anak perempuannya juga sudah tak lagi membatik. Masing-masing memilih menjadi pegawai negeri sipil dan berdagang.

“Dulu itu waktu masih gadis-gadis, ya ikut mbatik. Jadi, satu kalangan gini,” kata Mbah Hartinah. “Tapi setelah yang satunya kan kerja di kantoran KUA, terus yang satunya lagi dia dagang, jadi sudah enggak mau mbatik.”

Di usianya yang tak lagi muda, Mbah Hartinah masih sering mendapatkan pesanan konsumen dari luar kota. Bahkan, dulu, ia masih sering dapat pesan dari luar negeri. Hartinah khawatir suatu waktu pesanan masih datang tapi tak ada yang mengerjakan.

“Makanya kalau ada tamu tanya, ‘lha, kalau Mbah itu besok sudah enggak bisa mbatik siapa yang nerusin?’ Enggak ada. Anak saya enggak mau,” ucapnya sambil tertawa. Di mata terlihat tawa itu bukan tawa kebahagiaan.

Kekhawatiran itu bukan hanya pada kehilangan penerus pada keturunannya, tapi juga  pada generasi penerus batik tulis Giriloyo. “Perasaan saya itu, aduh.” keluh Hartinah dengan nada panjang. “Akhirnya batik itu terus bagaimana kalau enggak ada yang melanjutkan? Padahal, batik itu kan kebudayaan, ya.”

Nur Ahmadi mengatakan, saat ini ada 643 pembatik yang aktif di Giriloyo. Jumlah ini mendapatkan penghargaan rekor muri tahun 2023 lalu. Sebagai kampung batik dengan pembatik terbanyak.

Namun belum ada pendataan spesifik berapa pembatik yang usia muda, berapa yang paruh baya, dan berapa yang sudah masuk usia senja atau lansia. Pendataan ini tentu menjadi hal yang sangat penting untuk keberlanjutan batik tulis.

“Kami belum detail datanya. Kami belum bisa mendata secara detail berapa yang mudah, yang sepuh. Kami usahakan nanti ada datanya. Mungkin rata-rata di atas 40 tahun semua,” terangnya.

Ahmadi juga mengatakan hal yang sama seperti Mbah Hartinah. Anak-anak zaman sekarang tidak begitu peduli dengan batik. Didukung pula dengan orang tua yang acuh tak acuh.

“Upaya ada tapi tidak segencar dulu toh. Sekarang sudah kalah, anak-anak pulang masih sekolah main Hp. Saya dulu pulang itu masih sempat dolanan canting, lah sekarang saya pulang saja tengoknya tengok Hp dulu kok,” ujarnya.  (nik/amd)

Tags: bantulbatikgiriloyo
ShareTweetSend
Janika Irawan

Janika Irawan

Related Posts

“Esok Tanpa Ibu”, Film Drama Fiksi Ilmiah Garapan Kolaborasi 3 Negara
Bantul

OTT Pembuang Sampah Liar Efektif, Satpol PP Bantul Catat Penurunan Titik Sampah

20/01/2026
Labuhan Ageng Merapi Tahun Dal: Pelana Kuda, Doa Keselamatan, dan Laku Sunyi dari Lereng Gunung
Berita Pilihan

Labuhan Ageng Merapi Tahun Dal: Pelana Kuda, Doa Keselamatan, dan Laku Sunyi dari Lereng Gunung

20/01/2026
Belajar Sastra dan Penerjemahan Sejak Dini, Siswa SRMA 19 Sonosewu Ikuti Workshop Akar Ketuban
Bantul

Belajar Sastra dan Penerjemahan Sejak Dini, Siswa SRMA 19 Sonosewu Ikuti Workshop Akar Ketuban

20/01/2026
Disnakertrans Bantul Tegaskan Semua Pemberi Kerja Wajib Patuhi Aturan Ketenagakerjaan
Bantul

Kasus Penusukan Bantul Terungkap, Pelaku dan Korban Punya Hubungan Darah

20/01/2026
Bantul

Disnakertrans Bantul Tegaskan Semua Pemberi Kerja Wajib Patuhi Aturan Ketenagakerjaan

20/01/2026
Lima Warga di Jaranan, Bantul Sempat Mengungsi Akibat Banjir
Bantul

Lima Warga di Jaranan, Bantul Sempat Mengungsi Akibat Banjir

19/01/2026

Recommended Stories

Sedang Tayang! Ini Rekomendasi Film Bioskop untuk Mengisi Libur Panjang Januari 2025

Info Lokasi dan Jadwal Pertunjukan Barongsai di Jogja saat Imlek 2025

26/01/2025
Bangga! Ekstrakurikuler Unggulan SD Serayu Berbuah Prestasi

Bangga! Ekstrakurikuler Unggulan SD Serayu Berbuah Prestasi

23/12/2024
Danais DIY Terancam Dipangkas, Pemkab Sleman Kurangi Event Budaya

Danais DIY Terancam Dipangkas, Pemkab Sleman Kurangi Event Budaya

22/08/2025

Popular Stories

  • Ini Dia Penyebab Kebakaran Hebat Tempat Penitipan Motor di Jekulo, Kudus, Kerugian Capai Rp 430 juta!

    Ini Dia Penyebab Kebakaran Hebat Tempat Penitipan Motor di Jekulo, Kudus, Kerugian Capai Rp 430 juta!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Perbedaan Bahasa Gaul MK dan POV yang Sering Muncul di Konten Sosmed

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kronologi Syafiq Ali Ditemukan Tak Bernyawa di Lereng Selatan Gunung Slamet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HEBOH Ayah di Jaken Pati Cabuli Anak Tiri yang Masih SMP, Pelaku Diamuk Massa!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ganti Rugi Tol Yogya -Solo-YIA Cair, Segini Harga Tertinggi!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Joglo News

©2024 Joglonews.com. All right reserved

Portal Berita Harian Terbaru

  • Redaksi
  • Contact Person
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • HOME
  • YOGYAKARTA
    • Kota Yogyakarta
    • Bantul
    • Sleman
    • Gunungkidul
  • SEMARANG RAYA
    • Kota Semarang
    • Kab. Semarang
    • Kendal
      • Demak
  • MURIA RAYA
    • Kudus
    • Jepara
    • Pati
    • Rembang
  • PEMALANG RAYA
    • Pemalang
    • Kota Pekalongan
    • Kab. Pekalongan
    • Batang
  • BANYUMAS RAYA
    • Banyumas
    • Purbalingga
  • RELIGI
  • WISATA
  • KULINER
  • FIGUR

©2024 Joglonews.com. All right reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In