SEKOLAH berbasis budaya, SMPN 7 Yogyakarta, menanamkan rasa cinta dan apresiasi terhadap karya kreatif serta kearifan lokal untuk melestarikan budaya Jawa, khususnya Yogyakarta.
Upaya itu diwujudkan lewat empat pilar, yaitu intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan budaya sekolah yang terintegrasi.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Yudi Biantoro mengatakan, di intrakurikuler, sekolah membiasakan siyogogyo setiap pembelajaran.
“Anak dibiasakan atur salam saat guru masuk kelas. Mereka akan menyiapkan diri berbahasa Jawa menyambut guru. Selesai mengajar, siswa mengucapkan terima kasih dengan atur nuwun,” jelasnya, belum lama ini.
Guru mata pelajaran juga mengintegrasikan unsur budaya dalam materi. Saat pelajaran PKn, contohnya, para siswa diajarkan konsep wiru mung jarik. Tentang tata cara memakai kain tradisional.
BACA JUGA: Sukses Terapkan Deep Learning, Guru PJOK SDN Pujokusuman 1 Jadi Narasumber Nasional
Pilar kokurikuler, sekolah mengintegrasikan lintas mata pelajaran. Ia mengungkapkan, tahun ini kelas 7 mempelajari tembang Jawa, sementara kelas 8 fokus pada kreasi tari.
Kemudian dipamerkan lewat kegiatan gelar karya.
“Semua siswa, kelas 7 dan 8 tampil sesuai tema yang sebelumnya dipelajari. Kalau kelas 9 tidak menggelar karya karena mendekati ujian, tapi diberi tugas untuk membuat naskah drama,” terangnya.
Sementara itu, di ekstrakurikuler, sekolah menyediakan kelompok karawitan, tari dan membatik, untuk mengembangkan minat dan bakat peserta didik.










