SLEMAN, Joglo News — Di tengah kondisi Padang Pariaman yang masih diliputi duka akibat banjir besar, rombongan Komisi I dan IV DPRD Padang Pariaman tetap melaksanakan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Sleman, pada Selasa (2/12).
Keputusan ini menuai sorotan karena dianggap tidak menunjukkan empati kepada ribuan warga yang masih terdampak.
Ketua Komisi IV DPRD Padang Pariaman, TK Afredison, menjelaskan bahwa pihaknya tetap berangkat.
Ini lantaran agenda kunker tersebut telah dijadwalkan jauh hari. Selain itu juga sudah disahkan melalui Badan Musyawarah (Bamus).
“Ini sudah terjadwal dari awal. Ada yang berangkat, ada yang tidak. Dari Komisi IV kami tinggalkan dua orang. Tidak bisa dibatalkan, karena surat sudah masuk dan sudah dibamuskan. Nanti tidak enak juga kalau tiba-tiba dibatalkan,” jelasnya saat ditemui di Ruang Rapat Lantai 2 Setda Pemkab Sleman, Selasa (2/12).
BACA JUGA: Harapan dari Jogja Mengalir ke Sumatera, Polda DIY Lepas Bantuan untuk Korban Bencana
Afredison menegaskan bahwa rangkaian kunjungan kerja Komisi IV sudah direncanakan.
Adapun terjadwal berlangsung hingga Sabtu (6/12). Sekian ke Kabupaten Sleman, rencananya juga berlangsung di wilayah Kota Yogyakarta.
Adapun ditanya tentang tetap berangkat meski kondisi bencana, dia beralasan bahwa sebagian anggota tetap berada di Padang Pariaman.
Pembagian tugas sudah dilakukan untuk mengawal penanganan pascabencana.
“Rencana kunjungan dinasnya sampai hari Sabtu, pengajuan kunjungan ke Sleman sudah jauh hari, sudah dibamuskan dan rumuskan dan sebagian ditinggalkan,” katanya.
“Sudah kami bagi. Sebagian ditinggalkan untuk tetap memantau. Karena sudah masuk surat nggak enak juga (tidak berangkat kunjungan kerja),” imbuhnya.
Afredison mengklaim kondisi di Padang Pariaman saat ini sudah memasuki fase pascabencana.
Penanganan bencana sudah dilakukan oleh sejumlah stakeholder. Meskipun dia akui kerusakan masih masif di sejumlah titik.
“Yang paling parah itu di 3 sampai 4 kecamatan. BPBD sudah turun, Dinas Kesehatan juga. Banyak warga yang sakit karena rumah mereka terendam 3 sampai 4 hari. Rumah sakit aman, tidak ada yang lumpuh. Tapi jembatan banyak yang putus,” terangnya.
Meski demikian, dia mengakui masyarakat di daerahnya masih berada dalam suasana duka.
Tak hanya Padang Pariaman tapi juga bersama wilayah-wilayah lain di Sumatera yang terdampak bencana serupa.
“Kami juga mohon doa dari masyarakat Sleman. Kondisi di sana masih pasca bencana, tapi kami bagi tugas. Yang penting penanganan tetap berjalan,” ujarnya.
Rombongan DPRD Padang Pariaman diterima oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Agung Armawanta. Dia menyebut kunjungan tersebut kemungkinan sudah dirancang jauh sebelum bencana terjadi.
Dari data yang diperoleh Joglo Jogja, kunjungan Komisi I DPRD Padang Pariaman awalnya terjadwal 18 November 2025. Lalu untuk Komisi IV mengajukan 28 November 2025. Adapun bencana banjir bandang di Padang Pariaman terjadi 27 November 2025.
“(Permintaan kunjungan kerja) Saya baru tahu kemarin, tapi mungkin sudah disetting beberapa hari,” katanya.
Dalam kunjungan kerja ini terjadi diskusi terkait program kerja Pemkab Sleman. Salah satunya terkait program bantuan sosial dan sejumlah program lainnya. Hanya saja pembahasannya tidak sampai ke tingkat yang lebih teknis.










