SLEMAN, Joglo News – Beksan Kuda Gadhingan menjadi salah satu sajian penting dalam rangkaian Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 yang digelar oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tarian klasik ini dipilih karena tidak hanya menampilkan kisah peperangan dalam tradisi wayang, tetapi juga memuat filosofi mendalam tentang sifat dasar manusia.
Wakil Penghageng Kawedanan Kridhamardawa Karaton Yogyakarta KMT Suryawasesa menjelaskan bahwa Beksan Kuda Gadhingan merupakan karya atau yasan dalem dari Sri Sultan Hamengku Buwono V. Adapun konsepnya mengambil cerita Panji dalam Ringgit Gedog.
Kanjeng Surya menjelaskan cerita tersebut bersumber dari naskah Serat Kandha Ringgit Tiyang. Naskah ini memuat lakon Lampahan Jayalengkara dan Lampahan Jayakusuma.
Lebih lanjut, cerita ini mengisahkan peperangan antara Raden Kuda Gadhingan, patih atau senopati Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala melawan Patih Mondra Sudira, patih Prabu Dasalengkara dari Kerajaan Pudhak Sategal, dalam perebutan Dewi Candrakirana yang dipercaya sebagai titisan Dewi Angreni.
“Kenapa dipilih Tari Kuda Gadhingan, karena sebenarnya tarian ini menggambarkan peperangan antara Kuda Gadhingan melawan Mondra Sudira yang terdapat di dalam na skah. Dari sembilan repertoar naskah yang kami wujudkan dalam bentuk tari, karya ini dipilih untuk simposium,” jelasnya ditemui usai pembukaan Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta, Sabtu (11/4/2026).
Dia menjelaskan, tarian ini juga mengadopsi unsur arsitektur karaton. Khususnya lukisan bunga teratai yang terdapat di pendopo Kesatrian Keraton Yogyakarta. Lukisan tersebut menggambarkan perjalanan kehidupan manusia.
Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan dalam konsep empat sifat dasar manusia. Diantaranya amarah, supiyah, aluamah, dan mutmainnah.
“Empat sifat manusia itu digambarkan dalam warna dan karakter gerak penari. Merah melambangkan amarah, hitam menggambarkan ketenangan, kuning bersifat dinamis, dan putih melambangkan kesucian,” katanya.
Beksan Kuda Gadhingan sendiri memiliki konsep filosofi kiblat papat lima pancer.
Paham pemikiran ini, lanjutnya, tergolong unik karena jarang digunakan dalam beksan kakung atau tari putra di lingkungan keraton.
Tarian ini dibawakan oleh 10 penari. Terdiri dari dua penari utama sebagai tokoh sentral atau pancer, yakni Raden Kuda Gadhingan dan Patih Mondra Sudira. Selain itu masing-masing didampingi empat penari sipat.
“Dari sisi properti, lima penari yang memerankan karakter antagonis menggunakan senjata gada, sedangkan lima penari protagonis menggunakan bindi,” ujarnya.
Keunikan lain terlihat pada pola lantai yang menggunakan formasi Tunjung Teratai.










