JOGLO NEWS – Musim kemarau kembali memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Grobogan.
Puluhan desa dilaporkan mengalami kekeringan, bahkan beberapa di antaranya kesulitan memperoleh sumber air meski telah melakukan pengeboran tanah hingga kedalaman sekitar 100 meter.
Desa Banjardowo, Kecamatan Kradenan, menjadi salah satu daerah yang terdampak paling parah.
Desa yang dihuni sekitar 7.000 jiwa itu hampir setiap tahun menghadapi persoalan serupa saat kemarau.
BACA JUGA: Jathilan Bikin Pasar Ngijon Diserbu 1.000 Pengunjung, Omzet Pedagang Sleman Naik hingga 50 Persen
Sekretaris Desa Banjardowo, Hadi Sukanto, mengatakan berbagai upaya telah dilakukan warga untuk mendapatkan air tanah. Namun, karakteristik tanah di wilayah tersebut membuat pengeboran tidak membuahkan hasil.
“Tanahnya itu tanah hitam, tanah liat, tidak ada sumbernya. Ada warga yang mencoba ngebor 90 meter sampai 100 meter, tetap tidak ada sumber air,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Karena tidak memiliki sumber air sendiri, warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi hingga mencuci. Satu toren air dijual dengan harga sekitar Rp75 ribu.
Umumnya, warga membeli dua toren berkapasitas masing-masing 2.500 liter. Persediaan tersebut hanya cukup digunakan selama empat hari hingga satu pekan, tergantung jumlah anggota keluarga.
Kondisi serupa juga dialami Desa Grabagan, yang masih berada di Kecamatan Kradenan. Kepala Desa Grabagan, Eko Setyawan, mengatakan wilayahnya juga menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau.










